Showing posts with label Harta Bersama. Show all posts
Showing posts with label Harta Bersama. Show all posts

Friday, October 20, 2017

Perjanjian Pisah-Harta yang Dibuat Selama Berlangsung Perkawinan (Paska Putusan MK)

Sebagai salah satu lembaga kekuasaan kehakiman, Mahkamah Konstitusi (MK) menjalankan tugasnya sebagai lembaga penguji keberlakukan Undang-Undang terhadap UUD 1945. MK dipandang sebagai lembaga pengawal hak-hak konstitusional warga negara. Dalam hal ini, MK menjadi lembaga yang melakukan koreksi penafsiran (tafsiran resmi) atas keberlakukan norma-norma hukum yang merujuk pada UUD 1945. Putusan MK bersifat final. Namun, lantaran bersifat normatif, teknis pelaksanaan putusan tersebut tetap saja berada ditangan eksekutif (pemerintah) sebagai lembaga yang melaksanakan UU.

Dalam lapangan hukum keluarga (terkait status anak luar kawin/waris), peran MK menjadi cukup penting dalam melakukan pembaharuan hukum. Kita masih ingat bagaimana MK memutus bahwa (Putusan MK No.46/PUU-VIII/2010) status anak luar kawin diakui sebagai anak sah (dari ayah biologisnya) apabila dapat dibuktikan secara ilmiah maupun dengan bantuan teknologi atau bukti lainnya. Akibat hukumnya, anak luar kawin berpeluang untuk mendapat hak waris dari ayah biologisnya. 

Terkait dengan perkawinan, MK, melalui putusannya No.69/PUU-XIII/2015, telah memutus bahwa perjanjian perkawinan (perjanjian kawin) boleh dibuat oleh pasangan suami-istri selama perkawinan berlangsung. Sebelumnya, UU Perkawinan (UU No. 1 Tahun 1974) telah menetapkan bahwa perjanjian perkawinan hanya dapat dibuat oleh para pihak sebelum atau pada saat akad perkawinan dilangsungkan.    
  • Ketentuan Pasal 29 UU Perkawinan harus dimaknai: 
  • Ayat 1:
  • "Pada waktu, sebelum dilangsungkan atau selama dalam ikatan perkawinan kedua belah pihak atas persetujuan bersama dapat mengajukan perjanjian tertulis yang disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan atau notaris, setelah mana isinya juga berlaku terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut"
  • Ayat 3:
  • "Perjanjian tersebut mulai berlaku sejak perkawinan dilangsungkan, kecuali ditentukan lain dalam Perjanjian Perkawinan".

Perjanjian perkawinan atau perjanjian kawin yang dimaksud dalam Putusan MK sebenarnya lebih tepat disebut perjanjian pisah harta karena substansi dari permohonan gugatan tersebut adalah terkait persatuan harta sebagai akibat dari terjadinya perkawinan. Namun, perjanjian pisah harta hanya merupakan salah satu hal yang dapat diperjanjikan dalam suatu perkawinan.

UU Perkawinan mengenal prinsip persatuan harta atas harta yang diperoleh selama perkawinan dan prinsip pisah harta terkait harta bawaan, warisan dan hadiah kecuali ditentukan sebaliknya. Terkait persatuan harta (harta bersama) memang ada plus-minusnya. Di satu sisi, ketentuan ini merupakan bentuk pengakuan atas kedudukan yang setara antara suami-istri dalam perkawinan untuk mencapai kesejahteraan bersama. Namun di sisi lain, diluar pertimbangan sebagai bentuk perlindungan hukum atas harta bersama, sebagai konsekuensinya, timbul masalah dari sisi praktis, ketika salah satu pihak melakukan perbuatan hukum terkait harta perkawinan tersebut. Disyaratkan bahwa untuk melakukan perbuatan hukum, seperti pengalihan hak atas harta bersama, diperlukan persetujuan dari pasangan kawin untuk dapat mengesahkan perbuatan hukum tersebut. Menjadi tidak terlalu sulit apabila perkawinan masih berlangsung. Namun, ketika status perkawinan telah berakhir (bercerai), dalam praktek, masalah kerap terjadi ketika salah satu pihak hendak melakukan suatu perbuatan hukum atas harta yang ditinggalkan. Pihak notaris/PPAT sebagai pihak mengesahkan perbuatan hukum tersebut tetap saja meminta persetujuan bekas pasangan, padahal perkawinan telah bercerai dan kemungkinan sudah tidak akur lagi. Memang prosedur tersebut dapat dipahami tujuannya demi keabsahan dari perbuatan hukum itu sendiri, demi kebaikan para pihak maupun pihak Notaris/PPAT agar terhindar dari gugatan pihak lainnya.  

Masalah lainnya bahkan menjadi serius apabila perkawinan tersebut merupakan perkawinan campuran, berbeda kewarganegaraan. Terkait tanah, UU Pokok-Pokok Agraria melarang kepemilikan hak milik/HGB atas tanah oleh pihak asing (WNA). Berdasarkan KUHPerdata (bagi yang melangsungkan perkawinan sebelum UU Perkawinan Tahun 1974), ketika perkawinan berlangsung otomatis secara demi hukum berlangsung percampuran harta, sedangkan berdasarkan UU Perkawinan, percampuran harta otomatis terjadi atas harta diperoleh selama perkawinan. Bila demikian, maka harta perkawinan yang dimiliki (atas nama) WNI, berupa tanah, terancam hapus (menjadi tanah negara) apabila tidak dialihkan selama jangka waktu 1 tahun. Namun, biasanya pada saat memperoleh hak atas tanah tersebut (misalnya pada saat pembelian tanah), pihak Notaris akan menolak mengesahkan jual beli apabila pembeli tidak memiliki perjanjian pisah harta dengan pasangan WNA-nya. 

Keberadaan perjanjian pisah-harta di sini sangat diperlukan. Secara umum, perjanjian pisah-harta berfungsi meneguhkan status kepemilikan harta pribadi walaupun terikat dalam suatu perkawinan. Secara khusus, terkait percampuran harta karena perkawinan campuran, perjanjian pisah-harta berfungsi melindungi/menjaga hak atas kepemilikan harta pribadi (tanah) setelah perkawinan berlangsung. 

Dengan adanya Putusan MK tersebut, negara tetap memberikan perlindungan hukum kepada warga negara yang terkena dampak aturan UU Perkawinan dan UU Pokok-Pokok Agraria. jadi, warga negara tidak hanya bisa pasrah menerima konsekuensi hukumnya, melainkan dapat menempuh upaya hukum lain, dalam hal ini, dapat segera membuat perjanjian pisah-harta guna melindungi hak-haknya. 

Selain itu, Putusan MK tersebut juga menegaskan 2 bentuk dari perjanjian kawin itu sendiri. Pertama, perjanjian kawin dapat dibuat secara dibawah tangan oleh para pihak yang kemudian disahkan dan sekaligus dicatatkan oleh pegawai pencatat perkawinan. Kedua, perjanjian kawin dapat dibuat dalam bentuk akta notariil, dimana perjanjian tertulisnya disahkan oleh Notaris dan kemudian dicatatkan pada pegawai pencatat perkawinan. Putusan MK terkait ketentuan Pasal 29 ayat 1 tersebut memang dapat memberikan penafsiran yang berbeda, seolah-olah Notaris juga mengesahkan perjanjian kawin, padahal yang dimaksud* adalah bukan "perjanjian kawin"-nya, melainkan "perjanjian tertulis"-nya. Notaris mengesahkan perjanjian tertulis tersebut dan kemudian atas perjanjian tertulis tersebut dicatatkan oleh pegawai pencatat perkawinan untuk disahkan sebagai perjanjian kawin.

Terkait keberlakukan perjanjian kawin, semuanya dikembalikan kepada para pihak. Para pihak diberi kebebasan untuk menentukan kapan perjanjian tersebut mulai berlaku. Apabila tidak ditentukan khusus, maka berlaku sejak perkawinan berlangsung. Hanya saja, terkait percampuran harta dalam perkawinan campuran, persoalan muncul ketika perjanjian kawin dibuat bertahun-tahun setelah hak atas tanah diperoleh. Tentu saja, hak atas tanah yang dimaksud sudah hapus menjadi statusnya menjadi tanah negara. Apakah perjanjian kawin seperti ini dapat mengembalikan status hak tanahnya kembali menjadi hak milik atas nama bekas pemiliknya?

Walaupun telah diputuskan oleh MK sejak Oktober 2016, pelaksanaan putusan MK tersebut masih terkendala teknis di lapangan, baik belum adanya aturan pelaksanaan (juklak) maupun belum adanya kesamaan persepsi di kalangan instansi pemerintah sebagai pihak yang menjalankan kewajiban tersebut. Akhirnya, pada tanggal 19 Mei 2017, Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil mengeluarkan juklak pencatatan perjanjian kawin dengan Surat Dirjen Dukcapil No.472.2/5876/Dukcapil terkait perkawinan yang dicatatkan pada Kantor Catatan Sipil, sedangkan atas perkawinan-perkawinan yang dicatatkan pada Kantor Urusan Agama (KUA), teknis pelaksanaan pencatatan perjanjian kawin baru dikeluarkan dalam Surat Edaran Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag No.B.2674/DJ.III/KW.00/9/2017 tertanggal 28 September 2017. Dalam surat edaran tersebut disebutkan bahwa perjanjian kawin dapat dicatatkan pada KCS/KUA oleh Pejabat Pencatatan Sipil/Pegawai Pencatat Nikah (PPN) dengan memberikan catatan status perkawinan pada Register Akta Perkawinan/Akta Nikah dan Kutipan Akta Nikah. Disebutkan pula bahwa apabila perkawinan dilakukan dan dicatatkan di negara lain, namun perjanjian kawin dibuat atau diubah/dicabut di Indonesia, maka para pihak dapat melaporkan perjanjian kawin tersebut kepada KCS/KUA dan akan menerbitkan surat keterangan pelaporan.

Atas pencatatan perjanjian kawin yang dibuat sebelum perkawinan, syaratnya cukup melampirkan identitas dan salinan perjanjian kawin yang telah dilegalisir. Bila perjanjian kawin dibuat selama perkawinan, maka syaratnya ditambah dengan melampirkan asli dari Buku Nikah suami-istri atau Akta Perkawinannya, baik yang dilakukan di indonesia maupun di luar negeri. Demikian juga dengan syarat untuk perubahan atau pencabutan perjanjian kawin. Nantinya, pada Buku Nikah atau kutipan akta perkawinan akan ditambahkan keterangan atau catatan status perkawinan bahwa atas perkawinan tersebut telah dicatatkan perjanjian kawin berdasarkan akta notaris yang dibuat para pihak.

Hal lain yang menjadi masalah dan sering ditemui di lapangan adalah adanya perjanjian kawin yang tidak dicatatkan, baik pada KUA maupun KCS. Hal ini tentu membawa konsekuensi bahwa atas perjanjian kawin yang dibuat tersebut tidak berlaku terhadap pihak ketiga, kecuali dapat ditempuh upaya hukum berupa permohonan kepada hakim untuk mengesahkan perjanjian kawin tersebut dan memerintahkan kantor pencatat perkawinan untuk mencatatkannya sebagai bentuk pemenuhan asas publisitas.

Monday, March 13, 2017

Perjanjian Kawin/Perjanjian Pranikah


Perjanjian kawin (pre-nuptial agreement) menurut The Law Dictionary adalah perjanjian yang dibuat oleh kedua mempelai sebelum perkawinan berlangsung yang mengatur pembagian harta ketika perkawinan putus (cerai). Perjanjian kawin menurut pengertian ini lebih mengatur persoalan harta bersama diakhir perkawinan. Sementara, menurut undang-undang kita, perjanjian kawin tidak saja terkait persoalan pembagian harta pada saat perceraian, melainkan juga bagaimana mengurus harta bersama selama pernikahan. 

Menurut ketentuan Pasal 147 KUH Perdata, perjanjian kawin harus dibuat dengan akta notaris sebelum pernikahan berlangsung. Jika tidak demikian, sanksinya adalah secara demi hukum menjadi batal. Perjanjian tersebut berlaku sejak pernikahan dilangsungkan dan tidak boleh ditentukan pada saat lainnya. Setelah perkawinan berlangsung, perjanjian kawin tidak boleh diubah dengan cara apa pun. KUH Perdata menganut asas harta bersama, sebagaimana ketentuan Pasal 119 KUH Perdata, bahwa sejak dilangsungkannya perkawinan, maka terjadi harta bersama yang menyeluruh antarĂ  suami isteri. Harta bersama itu, selama perkawinan berjalan, tidak boleh ditiadakan atau diubah dengan suatu persetujuan antara suami isteri. Harta bersama meliputi keseluruhan keuntungan dan utang/beban, baik yang telah diperoleh atau dibawa oleh masing-masing pihak, ataupun segala keuntungan (termasuk aset-aset bergerak/tak bergerak) dan utang/beban yang akan ada dikemudian hari. Kesimpulannya perjanjian kawin untuk meniadakan asas persatuan secara menyeluruh atas bersama.

Menurut ketentuan Pasal 29 UU Perkawinan (UU No.1 Tahun 1974), Perjanjian kawin dapat dibuat pada waktu perkawinan berlangsung atau sebelum perkawinan dilangsungkan. Kedua belah pihak cukup mengajukan perjanjian tertulis yang selanjutnya perjanjian tersebut disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan. Isi perjanjian kawin juga terhadap pihak ketiga yang tersangkut, dengan catatan bahwa perjanjian kawin tersebut tidak melanggar batas-batas hukum, agama dan kesusilaan. Perjanjian tersebut mulai berlaku sejak perkawinan dilangsungkan dan selanjutnya tidak dapat diubah, kecuali tidak merugikan pihak ketiga. Perjanjian kawin tidak diharuskan dengan akta notaris oleh UU Perkawinan. UU Perkawinan membedakan antara harta bersama dan harta bawaan. Ketentuan Pasal 35 UU Perkawinan menyebutkan bahwa harta benda yang diperoleh selama perkawinan disebut harta bersama, sedangkan harta bawaan adalah harta pribadi masing-masing suami dan isteri dan harta benda yang diperoleh sebagai hadiah atau warisan. Perjanjian kawin dibuat untuk meniadakan harta bersama saja. Kesimpulannya, perjanjian kawin hanya untuk meniadakan asas persatuan atas harta bersama, sedangkan harta bawaan tetap menjadi hak pribadi pemiliknya.

Perkembangan terbarunya, Mahkamah Konstitusi telah memutuskan bahwa perjanjian kawin juga dapat dibuat setelah perkawinan berlangsung. Berdasarkan Putusan MK No.69/PUU-XIII/2015, ketentuan tata cara pembuatan perjanjian kawin tidak hanya dapat dilakukan sebelum/pada saat perkawinan dilangsung (pre-nuptial), melainkan juga dapat dibuat setelah perkawinan berlangsung (post-nuptial). Putusan ini ditetapkan oleh Mahkamah Konstitusi agar mencegah hilangnya hak warga negara Indonesia yang melakukan perkawinan campuran dengan warga negara asing untuk dapat memiliki tanah (hak atas tanah) dan/atau bangunan yang dikecualikan bagi orang asing tanpa harus melepaskan kepemilikannya tersebut. Dengan putusan ini, maka pasangan perkawinan dapat membuat perjanjian kawin setelah perkawinan berlangsung.

Permasalahan terkait perjanjian kawin setelah perkawinan tersebut adalah bagaimana cara pendaftarannya, mengingat perjanjian kawin agar mengikat para pihak dan kepada pihak ketiga harus disahkan oleh pejabat yang melangsungkan perkawinan. Sementara, UU Perkawinan memberikan kewenangan kepada pejabat tersebut hanya pada saat atau sebelum perkawinan dilangsungkan. Peraturan pelaksanaan mengenai perjanjian kawin setelah perkawinan ini belum ada.